Pengaruh Coping Terhadap Resiliensi Remaja Korban Pelecehan Seksual Online
Main Article Content
Abstract
Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja, termasuk di ranah digital (internet). Jumlah korban pelecehan seksual online tidak sedikit, bahkan dapat mengalami dampak psikologis (cemas, takut, depresi, dan trauma), menarik diri dari kehidupan sosial, dan kerugian ekonomi. Untuk dapat bangkit dari keterpurukan atau resilien akibat pelecehan seksual online diperlukan adanya coping dalam menghadapi masalah. Coping strategy memiliki dua bentuk, yakni problem-focused coping dan emotion-focused coping. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh coping terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 100 remaja yang terdiri dari remaja laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 13 sampai 18 tahun yang pernah menjadi korban pelecehan seksual online. Alat ukur yang digunakan adalah translasi dari The Ways of Coping oleh Lazarus dan Folkman (1984) dan Resilience Quotient Test oleh Reivich dan Shatte (2002) dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menggunakan analisis regresi berganda menunjukkan bahwa strategi coping berpengaruh secara signifikan terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online (R2 = 56,9%). Problem-focused coping tidak berpengaruh secara signifikan (sig.= 0,225 > 0,05) terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online. Sedangkan, emotion-focused coping berpengaruh secara signifikan (sig.= 0,001 < 0,05) terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.