Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi <p><strong>About the Journal</strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Jurnal Psikologi Forensik Indonesia </em></strong><em>(EN : Indonesian Journal of Forensic Psychology)</em> is an official scientific publication issued by the <strong>Indonesian Association of Forensic Psychology (<a href="https://himpsi.or.id/asosiasi">APSIFOR-HIMPSI</a>)</strong>, established through the 2018 APSIFOR-HIMPSI Board Meeting in Yogyakarta. JPFI publishes empirical research, theoretical reviews, case studies, and methodological developments focusing on forensic psychology and its intersections with law, judiciary, criminology, and public policy. Published twice a year in <strong>May and November</strong>, each manuscript undergoes a rigorous <strong>peer-review</strong> process to ensure academic quality, originality, and scholarly relevance. Articles are accepted in both <strong>Indonesian and English</strong>, aiming to reach a broad readership at the national and international levels. With a vision to become a leading reference in forensic psychology, JPFI is committed to fostering collaboration among academics, practitioners, policymakers, and the wider community in understanding and advancing the role of psychology within the legal system.</p> <hr /> <h4> <strong>Indexing:</strong></h4> <p> </p> <p> </p> en-US lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id (Fathul Lubabin Nuqul) jpfi@apsifor.or.id (-) Sun, 26 Jul 2026 17:18:08 +0700 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Modifikasi Alat Ukur Fear of Online Identity Theft (FOIT) pada Transaksi Online di Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/108 <p><em>One of the phenomena associated with problems in online activities is the increasing prevalence of data breaches across various online platforms. Therefore, this study aims to develop a measurement instrument for fear of identity theft in the context of online transactions. This study modified the Fear of Online Identity Theft (FOIT) scale, which consists of two dimensions: Fear of Financial Losses (FFL) and Fear of Reputational Damage (FRD). Confirmatory Factor Analysis (CFA) and reliability analysis were conducted to evaluate the developed instrument. Additional analyses, including independent sample difference tests and linear regression, were also performed to provide a broader understanding of FOIT and its influencing factors. The findings indicate that the FOIT scale demonstrates excellent psychometric properties, with a Cronbach’s alpha coefficient above 0.90, indicating high reliability. The developed scale consists of 11 final items, which showed a better model fit compared to the initial 20-item model. The pilot-tested scale was proven capable of measuring fear of online identity theft among social media users. Further analyses revealed that gender moderated the relationship between the frequency of mobile banking (m-banking) usage and FOIT. Specifically, among males, the relationship between m-banking usage frequency and FOIT was negative, whereas among females, the relationship was positive.</em></p> Raudyatuh Zahra Latief Copyright (c) 2026 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/108 Sun, 26 Jul 2026 00:00:00 +0700 Pengembangan dan Validasi Fraud Risk Profiling Scale: Pendekatan Situational Judgment Test Berbasis Fraud Diamond Theory http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/109 <div> <p class="BodyAbstract">Kecurangan dalam keuangan&nbsp; (fraud) merupakan ancaman serius terhadap integritas organisasi di berbagai sektor, baik publik maupun swasta. Meskipun kerangka teoretis Fraud Diamond, yang mencakup tekanan (pressure), rasionalisasi (rationalization), kesempatan (opportunity), dan kapabilitas (capability), telah diakui secara luas sebagai model komprehensif dalam memahami risiko fraud, namun instrumen pengukuran yang mengintegrasikan keempat dimensi tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji validitas psikometrik instrumen profil risiko fraud berbasis Fraud Diamond dengan pendekatan Situational Judgment Test (SJT). Format SJT dipilih untuk meminimalkan bias keinginan sosial (social desirability bias) dan meningkatkan realisme respons perilaku. Dari 40 item awal, melalui validasi ahli dan uji coba awal, disaring menjadi 14 item yang diujikan kepada 252 mahasiswa aktif organisasi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) menggunakan AMOS menunjukkan kesesuaian model yang sangat baik (χ²/df = 1.67, GFI = 0.952, AGFI = 0.929, RMSEA = 0.038, RMR = 0.028), serta reliabilitas yang memadai (α = 0.803). Meskipun nilai loading factor berkisar antara 0.427–0.656. Hal ini&nbsp; menunjukkan potensi dan menyisakan tantangan untuk penyempurnaan. Temuan ini mendukung validitas konstruk instrumen sebagai alat skrining awal risiko fraud. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan alat ukur berbasis bukti yang dapat digunakan dalam konteks pendidikan, organisasi, maupun pencegahan korupsi. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan mencakup validasi silang pada populasi yang lebih beragam dan konteks budaya yang berbeda guna memperkuat generalisasi temuan.</p> </div> Fathul Lubabin Nuqul, Fidinda Avitasari Copyright (c) 2026 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/109 Sun, 26 Jul 2026 00:00:00 +0700 Gambaran Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak: Dapatkah Keluarga Melindungi Anak? http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/107 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kekerasan seksual pada anak dan penjelasan latar belakang keluarganya.&nbsp; Subjek penelitian adalah lima orang anak korban kekerasan seksual, yang kesemuanya telah menjadi kasus forensik dengan melibatkan aparat penegak hukum dalam penanganannya. Adapun kriteria subjek adalah: anak berusia dibawah 17 tahun, menjadi korban kekerasan seksual, kasusnya ditangani oleh aparat hukum, dan lokasi kejadian di sekitar Kota Medan Provinsi Sumatera Utara. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap anak dan wawancara terhadap orangtua serta pendamping anak. Analisis data secara kualitatif dengan cara mendeskripsikan, membuat kategori, dan interpretasi data. Hasil penelitian menemukan: (1) korban dan pelaku, melibatkan sesama dan lawan jenis; (2) lokasi dan konteks kejadian, terjadi di lingkungan sekolah, area ketetanggaan, dan area publik; (3) dampak pada anak, menimbulkan problem psikologis, sosial, dan hambatan pendidikan anak; (4) latar belakang keluarga, anak berada dalam struktur keluarga dimana figur ayah sebagai pelindung berperan minimal atau absen, serta kurangnya komunikasi&nbsp; antar anggota keluarga. Dapat disimpulkan bahwa kekerasan seksual pada anak&nbsp; terjadi bukan semata-mata akibat kurangnya perlindungan keluarga namun juga akibat kurangnya perlindungan yang diberikan oleh support system untuk anak, seperti lingkungan sekolah, ketetanggaan, kesadaran masyarakat, hingga pejabat dan aparat penegak hukum.</p> <p>&nbsp;</p> Wiwik Sulistyaningsih, Erly Yunita Copyright (c) 2026 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/107 Sun, 26 Jul 2026 00:00:00 +0700 Persepsi dan Justifikasi Kekerasan Terhadap Perempuan di Ranah Domestik: Kajian Psikologi Forensik tentang Dinamika Normalisasi Kekerasan http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/106 <p>Kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik masih menjadi fenomena sosial yang kompleks dan berkelanjutan di Indonesia. Berdasarkan data dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) DKI Jakarta, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat 1919 kasus kekerasan terhadap Perempuan. Data Komnas Perempuan (2024) menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kekerasan berbasis gender terjadi di ruang personal dengan pelaku utama adalah pasangan atau suami. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan proses psikologis dan budaya yang menormalisasi kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dalam relasi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana persepsi dan justifikasi kekerasan terhadap perempuan terbentuk, dipelihara, dan dinormalisasi dalam konteks domestik melalui perspektif psikologi forensik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, melibatkan 5 partisipan perempuan korban kekerasan dalam relasi domestik yang berdomisili di DKI Jakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi nonpartisipan, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) internalisasi persepsi kekerasan sebagai bentuk kasih sayang dan pengorbanan, (2) justifikasi moral dan religius terhadap tindakan pelaku, serta (3) normalisasi kekuasaan patriarki yang membentuk ketergantungan emosional korban. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengembangan strategi perlindungan dan rehabilitasi korban berbasis gender yang lebih efektif di</p> Erly Yunita, Wiwik Sulistyaningsih Copyright (c) 2026 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/106 Sun, 26 Jul 2026 00:00:00 +0700 When Meaning Collapses: Nihilism, Violent Extremism, and the Promise of Logotherapy http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/113 <p>Contemporary violent extremism among youth is increasingly defined by existential vulnerability as well as ideological commitment. Recent cases in Indonesia involving adolescents exposed to extremist content via digital platforms indicate a shift away from traditional forms of terrorism based on organized recruitment, religious indoctrination, and political grievances and toward more fragmented forms of radicalization shaped by "salad bar ideologies," identity confusion, and meaninglessness. These developments underline the need of examining violent extremism through the prism of nihilism and the human search for meaning. This article will look at how Friedrich Nietzsche's concept of nihilism and Viktor Frankl's logotherapy might help us comprehend modern radicalization and propose preventive treatments. The study employs a literature review approach, analyzing important works by Nietzsche and Frankl as well as contemporary scholarship on nihilism, meaning in life, radicalization, and violent extremism. The review defines nihilism as an existential vacuum defined by the loss of meaning, purpose, and significance. Nietzsche's diagnosis of nihilism is still relevant for understanding the psychological and cultural factors that may heighten sensitivity to extremist narratives. However, his emphasis on self-created meaning arose from the historical context of European modernity and may be less applicable in communities whose meaning is drawn primarily from family, church, community, and social responsibility. In contrast, Frankl's logotherapy views meaning as something that can be discovered via relationships, responsibility, contribution, and attitudes toward suffering, making it more flexible to a variety of cultural situations. The findings indicate that meaning-centered methods could supplement traditional counter-radicalization strategies. Logotherapy-based interventions can assist at-risk individuals manage existential vulnerabilities by improving their sense of purpose, belonging, responsibility, and prosocial identity. Such approaches present a viable foundation for prevention, rehabilitation, and reintegration efforts in Indonesia and other non-Western settings.</p> Zora Arfina Sukabdi Copyright (c) 2026 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/113 Sun, 26 Jul 2026 00:00:00 +0700