http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/issue/feed Journal Psikologi Forensik Indonesia 2025-10-11T13:40:10+07:00 Fathul Lubabin Nuqul lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id Open Journal Systems <p><strong>About the Journal</strong></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Jurnal Psikologi Forensik Indonesia </em></strong><em>(EN : Indonesian Journal of Forensic Psychology)</em> is an official scientific publication issued by the <strong>Indonesian Association of Forensic Psychology (<a href="https://himpsi.or.id/asosiasi">APSIFOR-HIMPSI</a>)</strong>, established through the 2018 APSIFOR-HIMPSI Board Meeting in Yogyakarta. JPFI publishes empirical research, theoretical reviews, case studies, and methodological developments focusing on forensic psychology and its intersections with law, judiciary, criminology, and public policy. Published twice a year in <strong>May and November</strong>, each manuscript undergoes a rigorous <strong>peer-review</strong> process to ensure academic quality, originality, and scholarly relevance. Articles are accepted in both <strong>Indonesian and English</strong>, aiming to reach a broad readership at the national and international levels. With a vision to become a leading reference in forensic psychology, JPFI is committed to fostering collaboration among academics, practitioners, policymakers, and the wider community in understanding and advancing the role of psychology within the legal system.</p> <hr /> <h4> <strong>Indexing:</strong></h4> <p> </p> <p> </p> http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/65 Hukuman Mati Dan Kesehatan Mental: Perspektif Psikologi Forensik Terhadap Implikasi Hukum Dan Etika 2025-04-30T09:54:09+07:00 Jefri Firnando jefrifirnando11@gmail.com Rafif Salsabila rafifsalsabila033@gmail.com Ananda Zakiyyah Salzabillah Salzabillah anandazakiyyah@gmail.com <p>Fenomena penerapan hukuman mati telah lama menjadi isu kontroversial di berbagai belahan dunia, terutama terkait dengan individu yang memiliki gangguan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara penerapan hukuman mati, kondisi kesehatan mental, dan peran psikologi forensik dalam proses evaluasi terpidana, dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengkaji studi-studi terkait gangguan mental pada narapidana hukuman mati dan pengaruh evaluasi psikologis terhadap keputusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan mental, seperti skizofrenia dan gangguan kepribadian, sering kali mempengaruhi kapasitas mental terpidana dalam memahami dan menerima keputusan yang dihadapi, namun kondisi ini seringkali tidak dipertimbangkan secara memadai dalam proses hukum. Temuan ini menekankan pentingnya evaluasi psikologis yang akurat dan konsisten untuk memastikan tercapainya keadilan, serta tantangan dalam penerapan standar hukum yang jelas dan konsisten untuk kasus-kasus tersebut. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem perawatan kesehatan mental di lembaga pemasyarakatan dan pengembangan prosedur hukum yang lebih sensitif terhadap kondisi mental terpidana, guna mencegah ketidakadilan dan memastikan proses peradilan yang lebih manusiawi dan adil.</p> 2025-10-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/72 White Extremism: Psychological Perspectives 2025-07-17T04:28:56+07:00 Zora Arfina Sukabdi zora.arfina@ui.ac.id <p>Whiteness is a fluid concept as the definition of “white” continues to change throughout history. In terms of social and political construction, whiteness is similar to the construction of race. The term “white”, although it was initially inspired by ‘being white’, does not simply refer to a person's skin color; but rather an ideology based on their views, values, behavior, habits and attitudes. This ideology leads to an unequal distribution of power and privilege. Implementing literature review, this article investigates the origins of the abbreviated "whiteness" in humans, as well as the signs of white extremism and the belief systems that support white extremism. Through this discovery it is known that the white color in humans has been visible for around 80,000 years. Furthermore, the most obvious evidence of white extremism is when violence is used as the only way to achieve goals, among other indicators. In terms of belief systems, the story of Noah and Abraham's families may have been the origin of the beliefs that led to the development of white supremacist ideas. Through a psychological lens, these findings may be useful to academics and practitioners in their efforts to understand white extremism.</p> 2025-10-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/66 Analisis Bentuk Agresivitas Anak Didik Pemasyarakatan Berdasarkan Jenis Kasus Hukum 2025-04-30T09:30:11+07:00 Ira Wahyuni irawahyunipsi@gmail.com Hasnida hasnida@gmail.com Eka Ervika Eka@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran empat bentuk agresivitas yakni fisik, verbal, amarah dan permusuhan pada Anak Didik Pemasyarakatan (untuk selanjutnya disebut dengan Andikpas) jika dikaitkan dengan jenis kasus hukum yang ditetapkan yakni asusila, narkoba, pencurian, dan penganiayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Sampel pada penelitian berjumlah 53 orang Andikpas di LPKA Kelas II Payakumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agresi verbal merupakan bentuk agresivitas yang paling umum ditampilkan oleh Andikpas dari berbagai jenis kasus hukum yang mereka lakukan. Selanjutnya, Andikpas dengan kasus asusila menampilkan semua bentuk agresivitas, sedangkan Andikpas dengan kasus narkoba dan pencurian menampilkan bentuk agresivitas verbal, amarah dan permusuhan. Berbeda dengan Andikpas dengan kasus penganiayaan yang hanya menampilkan bentuk agresivitas verbal dan permusuhan. Implikasi dari penelitian ini adalah agresivitas cenderung terjadi pada semua Andikpas meskipun dalam bentuk yang berbeda. Oleh karena itu, LPKA dan pihak terkait perlu menyelenggarakan program pelatihan psikologis secara berkala dalam upaya menurunkan agresivitas pada Andikpas.</p> <p>&nbsp;</p> 2025-10-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/71 Dark Triad Personality Residivis di Kupang 2025-06-05T07:58:19+07:00 Juan Trisna G N Warduna juanwarduna06@gmail.com Juliana Marlin Y Benu juliana.benu@staf.undana.ac.id Rizky Pradita Manafe rizky.manafe@staf.undana.ac.id <p>Residivis merupakan kejahatan berulang yang dilakukan oleh narapidana setelah melalui hukuman di penjara. Salah satu penyebab residivis adalah faktor kepribadian. Penelitian ini menggunakan <em>Dark Triad Personality </em>sebagai faktor internal narapidana menjadi resedivis. Dark triad personality adalah kepribadian gelap yang memiliki tiga tipe yaitu machiavellianism, narsistik, dan psychopathy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi <em>dark triad personality</em> pada residivis di Kupang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. &nbsp;Penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIa Kupang. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 36 orang residivis. Penelitian ini menggunakan skala Short Dark Triad Personality yang berjumlah 15 aitem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkatan gambaran dark triad personality pada resividis untuk aspek narcissism, dan psychopathy berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 52,8% dan 38,9%, sedangkan aspek machiavellianism berada pada kategori rendah yaitu sebanyak 80,6%. <em>Social desirability</em> menjadi alasan residivis memiliki tipe Machiavellianism dan psikopati yang tergolong rendah. Implikasi dari penelitian ini adalah menggunakan wawancara lanjutan terkait <em>dark triad personality</em> pada residivis.</p> 2025-10-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Journal Psikologi Forensik Indonesia http://journal.apsifor.or.id/index.php/jpfi/article/view/82 Identifikasi Secondary Traumatic Stress Pada Petugas Pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar 2025-10-09T21:22:30+07:00 Ninic Solihati Hidayat ninichidayat@gmail.com Rika Fuaturosida Rika@gmail.com <p>Keterlibatan langsung petugas pemasyarakatan dalam mendengarkan cerita dan membantu warga binaan mengatasi masalah terutama masalah psikologis dapat memengaruhi terjadinya <em>Secondary Traumatic Stress</em> (STS). Aktivitas tersebut memberikan dampak emosional yang dapat mengganggu kesejahteraan hidup. Beberapa tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mendeskripsikan potensi STS, memetakan tingkat STS beserta dampak yang dialami oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar, menganalisis faktor penyebab dan faktor resiko dan menemukan model mekanisme <em>coping </em>STS yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian sebanyak empat petugas pemasyarakatan.&nbsp;Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa dari empat subjek, satu subjek teridentifikasi mengalami <em>secondary traumatic stress </em>(STS) dengan ditemukan gejala yang gejala <em>intrusion, avoidance, </em>dan <em>arousal.</em> Teridentifikasi kategori parah disertai dampak dari gejala yang dialami yakni pikiran yang mengganggu, tekanan emosional, dan kesulitan melepaskan diri secara psikologis. Terdapat beberapa faktor resiko yang dimiliki. Ditemukan juga model <em>coping</em> yang dominan dilakukan dalam mengatasi timbulnya <em>secondary traumatic stress </em>(STS) yang dilakukan oleh subjek.</p> 2025-10-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Journal Psikologi Forensik Indonesia