Identifikasi Secondary Traumatic Stress Pada Petugas Pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar
Main Article Content
Abstract
Keterlibatan langsung petugas pemasyarakatan dalam mendengarkan cerita dan membantu warga binaan mengatasi masalah terutama masalah psikologis dapat memengaruhi terjadinya Secondary Traumatic Stress (STS). Aktivitas tersebut memberikan dampak emosional yang dapat mengganggu kesejahteraan hidup. Beberapa tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mendeskripsikan potensi STS, memetakan tingkat STS beserta dampak yang dialami oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar, menganalisis faktor penyebab dan faktor resiko dan menemukan model mekanisme coping STS yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian sebanyak empat petugas pemasyarakatan. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa dari empat subjek, satu subjek teridentifikasi mengalami secondary traumatic stress (STS) dengan ditemukan gejala yang gejala intrusion, avoidance, dan arousal. Teridentifikasi kategori parah disertai dampak dari gejala yang dialami yakni pikiran yang mengganggu, tekanan emosional, dan kesulitan melepaskan diri secara psikologis. Terdapat beberapa faktor resiko yang dimiliki. Ditemukan juga model coping yang dominan dilakukan dalam mengatasi timbulnya secondary traumatic stress (STS) yang dilakukan oleh subjek.